Pages

Minggu, 11 September 2011

TRADISI KUPATAN DI PASURUAN


            
Setiap tahunnya, umat muslim di dunia khusunya di Indonesia menunaikan salah satu rukun islam yaitu berpuasa tepatnya di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan ini diakhiri dengan perayaan yang disebut Hari Idul Fithri yang jatuh pada awal bulan Syawal. Di hari itu sebagian umat muslim Indonesia menunaikan sholat idul fithri, dilanjutkan dengan saling bermaafan. Dari sinilah kita bisa mengerti apa ciri utama dari perayaan penting ini, yaitu adanya ikatan persaudaraan yang terjalin dari bertemunya masyarakat baik dekat maupun jauh untuk memulai dari awal. Karena tidak ada manusia yang sempurna, sehingga banyak sekali kesalahan yang terjadi yang mengharuskan mereka untuk saling bermaaf-maafan.
                Keadaan berkumpulnya dua manusia atau lebih untuk saling memohon maaf ini hampir dilakukan di semua daerah di Indonesia dengan tradisi yang berbeda-beda. Misalnya, tradisi nyekar, ziarah ke kubur, atau unjung-unjung (saling berkunjung antar saudara, teman, atau tetangga). Di wilayah kota dan kabupaten Pasuruan yang notabene adalah ras Madura, merayakannya dengan tradisi yang berbeda, yaitu lebaran Kupatan atau hari raya Ketupat. Ahmad Sahidah mengatakan dalam essainya yang berjudul Kembali Fitri v Social Evils, “Malahan, di Madura, seminggu setelah 1 Syawal, warga Pulau Garam itu merayakan Lebaran Ketupat, merayakan puasa enam hari setelah Syawal yang dianggap amal pelengkap Ramadan.”
                Tradisi di Madura-lah yang pertama kali ada di Pasuruan ini, dengan tujuan sebagai pelengkap puasa di bulan Ramadhan. Hari ini terasa spesial bagi warga Pasuruan, khususnya wilayah utara kota, karena di daerah itulah hampir 100% warga merayakannya. Sebelum melihat bagaimana keadaan dan situasi di hari ini, mari kita lihat tradisi yang biasa ada saat hari raya idul fithri di Indonesia. Tepat pada tanggal 1 Syawal, setelah semua muslim sholat idul fihri, mereka saling sungkem (meminta maaf kepada orang yang lebih tua) dilanjut dengan bermaafan sesame saudara. Di samping itu, telah siap hidangan ala hari raya, yaitu ketupat dan opor ayam atau rendang, kemudian mereka akan menyantap hidangan secara bersama. Terlihat jelas kekeluargaan dan ikatan persaudaraan yang terjalin, apalagi saat ada keluarga yang lama tak berjumpa, situasi ini akan menimbulkan kesan rindu yang berbeda dengan hari lainnya.


                Sebenarnya tidak ada perbedaan yang begitu jauh antara perayaan pada umumnya dengan perayaan lebaran kupatan, hanya saja warga Pasuruan mengemasnya dengan keadaan yang berbeda. Bisa dilihat dari penentuan hari raya, lebaran kupatan biasa dilaksanakan tujuh hari setelah hari raya idul fithri atau setelah tanggal 1 Syawal. Lalu, bagaimana dengan hari raya idul fihtri di Pasuruan? Tentu saja warga tetap menjalankan sholat ied, menerima tamu, atau pergi berkunjung. Tetapi, itu sangat jarang dilakukan, mereka baru melakukannya pada hari kupatan tersebut.
                Agenda di hari spesial ini nampak berbeda, satu hari sebelum lebaran kupatan, warga membuat ketupat, lontong, dan lepet (makanan terbuat dari ketan di campur kelapa parut dan kacang kedelai yang dibungkus daun pisang lalu direbus). Ketupat dan makanan lainnya akan disajikan bersama dengan opor ayam, seafood, atau rendang. tepat tujuh hari setelah 1 Syawal, mereka akan memulainya dengan mengantarkan semua makanan ini ke musholla terdekat, kemudian menukarnya dengan milik tetangga. Nampak bahwa ada keterkaitan di antara para warga, mereka sudah lama mengenal dan menjalin hubungan sehingga mereka tidak lagi khawatir dengan perlakuan seperti ini. Selanjutnya adalah menunggu para tamu yang siap hadir untuk bersilaturrahim, pada saat inilah mereka saling bermaafan dan mencicipi hidangan. Para tamu bak raja yang harus dilayani, bahkan tidak heran jika para tamu meminta sesuatu yang lain dari yang lain, tuan rumah harus siap melakoninya. Karena terkadang, para tamu meminta untuk beristirahat, atau menikmati laut dengan menggunakan perahu.
                   Semua kondisi tersebut selalu ada di Pasuruan, hari itu akan lebih ramai dibandingkan dengan hari raya 1 Syawal. Tempat wisata, pasar, hingga jalanan ramai oleh warga terhitung satu hari sebelum hari lebaran kupatan.
Dari tulisan di atas, sekilas memang belum ada yang special, hanya budaya dan tradisi kecil yang akhirnya mendukung hari besar islam tersebut. Nilai-nilainya hanya sebatas nilai keagamaan, saling menghargai, menghormati antar warga, serta mempertahankan adanya tradisi yang sudah terdengar di seluruh Indonesia. Tetapi, nilai-nilai yang seperti inilah yang kadang dianggap sebuah kontraversi. Budaya di Indonesia akan lebih mencolok dibandingkan dengan ibadahnya sendiri. Padahal dengan banyaknya nilai budaya tersebut, kita tetap utuh menjadi warga yang setia terhadap budaya. Kita seharusnya lebih menerima dan tidak menganggapnya sepele sehingga nantinya tidak berbalik dengan menjatuhkan nilai-nilai itu sendiri.

Oleh. Hanifah Tsabati

0 komentar:

Posting Komentar